Minggu, 27 April 2014

Gores cerita kehidupan

Setiap orang punya cara sendiri menggoreskan cerita dengan pena takdir yang diberikan.
Entah bagaimana caraku menggoreskan dan meniti cerita demi cerita dalam kehidupanku.
Boleh dikatakan tiada keistimewaan yang aku punya. Kekayaan yang kunikmati bukan sepenuhnya milikku jua.
Mengapa Tuhan begitu mengasihiku dan memberi cerita yang begini mengharukan.
Dalam setiap cobaannya ia menyisipkan kebahagiaan-kebahagiaan tak ternominal.
Begitu cintanya Ia padaku sampai menegurku dengan hantaman-hantaman kecil yang selalu harus aku ambil hikmahnya.

Apakah begini yang semua manusia rasakan?
Berpijak untuk menggoreskan sebuah cerita hidup?
Ataukah seharusnya kita hidup untuk mengumpulkan nominal saja?
Atau hidup ini biar saja berjalan datar tanpa cerita di dalamnya?

Jikalau suatu kehidupan manusia hanyalah membayar hutang masa lalu, aku tak berjanji dapat melakukan hal yang lebih baik
Aku percaya semua proses kehidupan selayaknya sebuah buku.
Kau yang mengukir, kau yang pertama membaca.

_28.04.14_

Senin, 17 Maret 2014

Pertemuan Terakhir

Aku pikir kita tak akan bertemu lagi. . .



Panas menyengat siang itu cukup menyedot moodku yang memang sedang buruk-buruknya. Deadline yang belum kukerjakan, terlambat karena  traffic jam pagi itu dan hal-hal sepele seperti baju yang kurang match-ing karena atasan krem favoritku tiba-tiba ketumpahan kopi semenit sebelum aku berangkat, yang terpaksa aku ganti dengan baju seadanya alias yang paling cepat terlihat mata. Tak seburuk itu sebenarnya, cuma kurang match dengan sepatu 7cm cokelat muda yang aku pakai hari itu.

Sebenarnya memang aku sudah berharap-harap hari itu akan jadi hari yang biasa-biasa saja, tidak bertemu denganmu tentunya. Sudah lama nampaknya kita tak bersua. Mungkin ada kerinduan, sedikit.

Rasa-rasanya aku menulis terlalu gamblang tentang apa yang terjadi siang itu. Kau yang datang tiba-tiba (lagi), aku yang (masih) tak sanggup bertemu denganmu dan kecanggungan kita saat ini. Aku buru-buru membayar bon kopiku. Aku tak berani menatapmu, hanya mencuri pandang sedikit saja.

Beberapa bulan perjuangan melupakanmu membias sudah.
Aku ingat aku pernah ingin selalu menatapmu lebih lama.  Juga mengikuti gerak tingkahmu dengan sudut mataku. Tanganmu yang menari-nari ketika menjelaskan sesuatu selalu membuatku tertawa, juga leluconmu yang selalu membuatku berpura-pura kesal.

Ada memori yang pernah ingin aku hapus, tapi aku menulisnya kembali. Kali ini bukan tentang kau dan aku.
Biarlah ini hanya tentang aku dan kenanganku.
Karena tak selalu cerita indah berakhir dengan kebersamaan.

Rabu, 26 Februari 2014



Kemarin aku sangat beruntung, banyak hal yang datang melampaui harapanku. Jadi hari ini aku menggantungkan harapan setinggi hasil yang kudapat kemarin. Namun yang terjadi malah jauh dibawah apa yang kutargetkan.

Dan aku menyadari satu hal. Manusia tak selamanya beruntung, namun juga manusia tak selalu tak beruntung. Aku berhak menggantungkan cita-citaku setinggi langit. Bermimpi ke ujung dunia dan meraih bintang yang paling terang. Namun harus siap gagal dan jatuh ke jurang yang paling dalam.

Aku tak berharap hidupku seperti Cinderella yang merubah nasib hanya dengan sepatu kaca. Aku hanya berharap selalu ada tangga-tangga kecil untuk dapat kupijak naik.

Wahai Kau Pencipta Semesta, aku hanyalah makhluk biasa yang berpegang pada tongkat yang kunamakan harapan. Janganlah terbangkan aku jika harus jatuh suatu hari. Biarlah kudaki tangga-tangga kecilmu dengan tongkat yang kupunya. Aku hanya tak ingin kecewa. Karena kekecewaan berasal hanya dari pengharapan yang terlalu tinggi, bukan capaian yang terlalu rendah.

Senin, 23 Desember 2013

Sepotong Cerita Tiara

Kau bilang cintamu sedalam laut
Kenapa memaki jika aku telat menemuimu?
Kau bilang hanya aku yang ada di hatimu 
Kenapa kau mau menemui wanita itu?



Siang itu hujan turun menggebu-gebu serasa tak kan mau berhenti. Aku menatap layar ponselku cukup lama. Laki-laki itu bilang akan menghubungiku sebelum makan siang, tapi ini bahkan sudah sejam lewat dari waktu yang ia janjikan. Perutku sudah tak lapar lagi karena gelisah. Bukannya aku tak mau menghubunginya, justru ia meninggalkan ponselnya di apartemennya.
Ah, ini seperti menanti salju di musim panas.
Aku merapikan mejaku karena bosku sudah menjentik-jentikkan jarinya dari ujung koridor depan, tanda kami harus segera bersiap meeting. "Kita harus datang tepat waktu"katanya."tunjukkanlah bahwa kita profesional".
Ah, lelaki itu begitu menguras pikiranku, jika saja ia sudah menghubungiku sebelum siang tadi. akhir-akhir ini ia memang sering menghilang dan itu cukup menambah kecemasanku. Aku memang orang yang cepat cemas akan semua hal.

pelataran parkir restoran terlihat cukup sepi, tak banyak orang datang kemari. Klien perusahaan kami sudah datang tampaknya, aku harap rapat tak akan berlangsung lama. Semakin cepat selesai semakin cepat aku dapat beralasan untuk pergi sebentar.


Namun sepertinya langit berpihak padaku, aku melihatnya duduk di sana. Di bangku paling ujung yang tersamarkan hiasan dinding pohon cemara. Haruskah aku lega? karena kulihat ada seorang wanita yang sedang bersamanya. Dengan tangan yang saling menggenggam, dan senyum yang saling tersimpul.
Ah, seharusnya aku tau dari awal bahwa ini hanya permainan.

Desember 23, 2013
To   : <bams_nugraha@gg.co.id>
From : <ini_tiara@gg.co.id>

Hai Bams, apa kabar?
Aku melihatmu siang itu. Ya begitulah, kau bersama wanita itu.
padahal kau janji akan menghubungiku sebelum makan siang
Jadi sepertinya semuanya sudah selesai ya.
Akan ku kirimkan barang-barang yang kau tinggalkan secepatnya.
Kecuali kotak-kotaknya karena kupikir kita akan berakhir bersama.
Jadi aku membuangnya.

-tiara-

Selasa, 10 Desember 2013

Masih Sama

Aku meremas jari-jariku yang masih kaku. Sedikit terkejut karena kau muncul begitu tiba-tiba. Bukannya aku takut untuk bertemu denganmu, hanya saja aku belum siap rasanya. Aku masih ingat langit kelabu yang memisahkan kita sore itu. Juga beberapa kata yang tak ingin aku ingat...
Lucu sekali moment kecil yang kau ciptakan dapat memberiku begitu banyak cerita. Pikiranku berlari-lari entah mengejar apa. Berputar-putar entah memikirkan apa. Terlalu banyak ingatan yang kau ciptakan untukku. Fase-fase kejadian berlomba-lomba untuk diingat. Ah, ternyata masih sama. Banyak hal kupikir telah berubah. Tapi nyatanya tidak.

Selasa, 05 November 2013

Every Moment has End

Bila ada pertanyaan tentang seberapa indahnya hidup, mungkin aku adalah orang terakhir yang bisa menjawabnya. Aku tak dapat mengatakan hidup itu indah ketika terjadi saat-saat jatuh yang tak bisa kubilang menyenangkan.
Kehidupan itu tak pernah sempurna, ada jurang-jurang kecil dimana kita bisa terperosok ke dalamnya. Kita juga tak dapat menilai kebahagiaan seseorang dari tampak luarnya dan gaya hidupnya. Kemewahan bukan ukuran dari sebuah kebahagiaan. Seperti yang sering kukatakan bahwa ukuran sebuah kebahagiaan sesungguhnya adalah seberapa besar kita menerima dan mensyukuri apa yang kita punya.
Sebut saja ketika kita mengalami hal-hal buruk dalam kehidupan. Pertengkaran misalnya. Hal itu tak berlangsung sepanjang kehidupan bukan? Ada saatnya sebuah amarah akan surut dan digantikan dengan penyesalan. yang harus dilakukan hanyalah mengambil hikmah dari setiap peristiwa kemudian mengusahakan agar ketika hal serupa terjadi lagi, kita mampu mengontrol diri kita sehingga yang akan terjadi tak kan seburuk sebelumnya.
Tentu saja semua hal itu dimulai dari diri sendiri.
Aku pernah menonton siaran di salah satu TV kabel. Ketika itu membahas tentang kehidupan dan cara mengontrolnya.
Sebaiknya kita mencatat dan membuat grafik perasaan dan keadaan hari per hari.
Ketika kita teliti, jumlah hari yang buruk tentunya tak sebanyak hari-hari baik. Katakan saja dalam 14 hari ada 2 hari yang buruk. Kelemahan manusia adalah selalu mengingat dua hari buruk tersebuut dan melupakan hari-hari baiknya.
jadi dengan catatan yang kita buat, semacam buku harian bisa saja, kita akan mengingat dan tau bahwa hari buruk itu tak terjadi sepanjang minggu.Ya, sesederhana itu, setiap kejadian pasti memiliki akhir.
Hari yang baik bisa berganti menjadi hari yang buruk, namun hari buruk itu akan berlalu seiring waktu, bergantikan dengan hari yang baik lagi. Begitu seterusnya, moment hidup yang terkadang monoton, tanpa kita menyadarinya. Because every moment has end. Semua hal memiliki akhir. 


Senin, 13 Mei 2013

Just Give Me a Reason - Pink ft. Nate Ruess

 
Right from the start
You were a thief
You stole my heart
And I your willing victim
I let you see the parts of me
That weren’t all that pretty
And with every touch you fixed them
Now you’ve been talking in your sleep oh oh
Things you never say to me oh oh
Tell me that you’ve had enough
Of our love, our love

Just give me a reason
Just a little bit’s enough
Just a second we’re not broken just bent
And we can learn to love again
It’s in the stars
It’s been written in the scars on our hearts
We’re not broken just bent
And we can learn to love again

I’m sorry I don’t understand
Where all of this is coming from
I thought that we were fine
(Oh we had everything)
Your head is running wild again
My dear we still have everythin’
And it’s all in your mind
lyricsalls.blogspot.com
(Yeah but this is happenin’)
You’ve been havin’ real bad dreams oh oh
You used to lie so close to me oh oh
There’s nothing more than empty sheets
Between our love, our love
Oh our love, our love

Just give me a reason
Just a little bit’s enough
Just a second we’re not broken just bent
And we can learn to love again
I never stopped
You’re still written in the scars on my heart
You’re not broken just bent
And we can learn to love again

Oh tear ducts and rust
I’ll fix it for us
We’re collecting dust
But our love’s enough
You’re holding it in
You’re pouring a drink
No nothing is as bad as it seems
We’ll come clean

Just give me a reason
Just a little bit’s enough
Just a second we’re not broken just bent
And we can learn to love again
It’s in the stars
It’s been written in the scars on our hearts
That we’re not broken just bent
And we can learn to love again