Sabtu, 20 Juni 2015

Miss a moment

Sangat merindukan waktu untuk diri sendiri.. Rasanya sudah lama sekali tidak berlibur atau nge-mall. 
But life goes on. There's no big thing i want reach in this world. I just wanna a simple life like what supposed to be.
Yeah, really scare to have a big dream because i dont want hurt so much😊

Senin, 06 April 2015

Rindu remaja

Rindu sekali rasanya membaca postingan-postingan lalu yang saya tulis. Saya merasa membaca karya yang bukan saya tulis. Rasanya setiap kata dan kalimat benar-benar membuat hati saya bergetar.
Mungkin bukan sebuah karya indah namun dalam setiap cerita saya menemukan sesosok rindu yang bersembunyi dalam diri saya. Entah rindu pada apa dan siapa.
Disinilah saya pada akhirnya menemukan jati diri dan diri saya yang sebenarnya. Yang mungkin tidak orang tau.
Mungkin saya tindu rumah
Dan rindu pada masa saya tak perlu khawatir tentang apapun
Juga rindu pada masa saya disiapkan semua hal oleh ibu saya
Benar-benar,
 saya bukan lagi setahun dua tahun menikah
Saya juga bukan hanya memiliki satu anak tetapi dua
Tapi saya tidak pernah merasa dewasa di depan ibu saya
Saya hanya benar-benar rindu menjadi remaja dan dipeluk manja
Tidakkah waktu dapat diam sebentar dan menunggu saya untuk bernapas
Saya rasanya belum siap untuk menjadi dewasa.
Serasa itu bukan saya yang sebenarnya

Rabu, 07 Januari 2015

Hadiah pagi yang tak selalu manis

Sebuah pagi tidak selalu dihadiahkan dengan cara yang manis.
Seperti pagi itu, yang sedikit pahit.
aku anggap ini hanyalah sebuah warna hitam yang akan kuhapus dengan warna lainnya.
Jadi seperti mimpi yang menjadi kenyataan, aku menikmati kopi pagiku bersama para sahabat.
Pinggiran pantai dengan pohon peneduh yang menjadi langit pagi itu.
kubiarkan pikirku menerawang lauh, kubiarkan ia bebas berlari.
Mengejar mimpi-mimpi yang nampak di ujung ombak yang menerpa pembatas pantai.
Surga mungkin jauh lebih indah.
Tapi cukup kubiarkan anggapan bahwa ini adalah suatu mimpi yang Ia wujudkan.
Tuhan itu tak pernah tidur. Dan aku yakin Ia akan selalu menyayangiku. ..

Tunggu Aku

Apa yang pernah kurencanakan dalam hidup ini? sepertinya aku terlalu banyak berencana.
Namun rasanya aku hanya berdiam memikirkan rencana-rencana yang berlarian dalam kepalaku. Dan cahaya terang di luar sana terus mengusikku.
Ingin sekali saja aku menyebut namamu tapi aku tak bisa.
Aku masih takut menghadapi diriku yang belum mampu melupakanmu.
Pernah sekali aku memimpikanmu, mungkin karena terlalu rindu.
Bahkan bunga kaktus yang kau kau tinggalkan kini kering sudah.
Aku selalu lupa menyiramnya. Aku juga selalu lupa membersihkan gitar kesayanganmu.
Banyak sekali hal-hal yang tak kukerjakan.
Terkadang aku tak tau apa yang kukerjakan seharian karena semua pekerjaanku terbengkalai.
Mungkin aku patah hati.
Aku hanya merindukanmu.
Itu saja.
Lampu peringatan ponselku terus berkedip. Entah berapa pesan yang menunggu untuk dibaca.
Pikirku itu pasti dari teman-teman dan kerabat yang menanyakan kabarku.
Aku bosan sekali, mereka pikir aku kesepian...
Tentu saja aku baik-baik saja.
Sejauh ini aku masih bisa menatap fotomu di bingkai ujung sana.
Masih menggunakan piyama tua kesukaanmu dengan bau keringat yang kau tinggalkan.
Kau masih di sini kan, sayang?
Menatapku entah dari sudut mana.
Dan itu menyedihkan karena aku bahkan tak tau kau ada.
Kau hanya pergi terlalu cepat tanpa menungguku sebentar saja.
Tidakkah kau merasa bersalah pergi tanpa ucapan perpisahan?
Tunggu,
tunggulah aku sebentar lagi. Kita pasti bersama.

Jumat, 25 Juli 2014

Secangkir Pagi



Malam tadi aku tidur tak terlalu nyenyak. Banyak kelebatan mimpi yang datang dan tak kuingat tentang apa.
Aku mengenyahkan segala pikiran burukku tentang wanita yang semalam kubaca pesannya lewat ponselmu. Entah memang benar atau hanya perasaanku saja kalau kau memang sedang menjalin suatu hubungan dengannya. Bukannya aku menentang, hanya saja aku pikir suatu saat akan ada tempat untuk ku berteduh di hatimu.
Asap kopi mengepul dari cangkir putih yang kuletakkan di atas meja kayu ruang tengah. Aku meniup-niup dan menyapnya perlahan. Aku penikmat kopi panas dan suka sekali bila sendok pengaduk dibiarkan di dalam cangkir sampai kopi itu habis. Berbeda denganmu yang selalu membiarkan kopimu setengah panas dan meneguknya sekalian. Aku benci mengenalmu terlalu detail. Terkadang aku merasa seperti follower yang mengikuti kebiasaan-kebiasaan kecilmu seperti membersihkan sendokku sebelum digunakan (padahal sudah bersih), mecium makanan sebelum dicoba bahkan aku sekarang mulai membaca buku-buku arsitektur seperti yang kau sukai.
Biasanya kau sudah memarkirkan vespa kunomu dan mulai marah-marah bertapa berantakannya aku dengan sandal dan sepatu yang berantakan di rumah kontrakanku ini. Kini yang ada hanya beberapa daun mangga yang jatuh dan butiran-butiran kuning kecil yang menandai akan munculnya buah baru. Sudah dua jam kau terlambat dari biasanya dan mungkin ini akan menjadi kebiasaan baru yang harus kuterima.


Pagi seperti yang lalu-lalu.
Aku menyesap kopiku, masih dengan sendok yang dibiarkan di dalam cangkir. Aku memandangimu yang bernyanyi merdu dan sesekali menyebut nama wanita itu dalam lagumu.
Aku pun tersenyum dan tertawa.
Palsu.
Jadi belakangan ini sering kali aku berpura-pura di depanmu.
Hanya dengan itu aku masih bisa menikmati lagumu.
Hanya dengan itu masih bisa menatap senyummu.
Dan hanya dengan itu aku masih bisa merindu aroma tubuhmu.
Ada cerita yang akan selalu kusimpan sendiri. Cerita tentang wanita pengecut si pengagum gelap. Mencintai tanpa mampu mengungkap perasaannya. Pada lelaki yang terlalu dekat sampai merasa seperti saudara-tapi bukan.
Dan bila kita dipertemukan dengan cara berbeda, aku janji, aku akan mengucap cinta..
Aku mencintaimu…



Kamis, 10 Juli 2014

Cerita Sendu Si Gadis Perindu



Menatap sendunya senja sore itu dengan secangkir teh buatan ibuku dan lagu yang bersenandung merdu. Aku menyingkap gorden beludru ungu yang berada dihadapanku, melahap sore itu dengan penuh takjub. Tak pernah kuduga aku akan merasa seberuntung ini. Bunga-bunga di ujung meja sana sudah tampak mengering, lupa aku suruh perawat kemarin membuangnya.

Aku menggerakkan kursi rodaku beberapa senti ke depan dan kurasakan semakin ringan dengan bantuanmu. Ah, beruntung benar rasanya memiliki seorang ibu, yang selalu mengerti kekuranganku dan aku tahu kebanyakan ibu memang begitu. Mereka terlalu cemas dengan anak-anaknya.
Tak pernah kubayangkan ada hal yang begitu cepat perubahannya.  Sejak pria berjas putih yang kusebut dokter itu mendiagnosisku mengidap penyakit radang sendi. Dan orang ini membelikanku kursi roda, agar aku tetap dapat tetap mandiri katanya. Selebihnya aku sangat mengerti bahwa ia tak ingin aku merasa bahwa aku sedang sakit.

Kemarin ibuku membawaku ke salon dekat dengan rumah sakit dan memotong pendek rambutku. Sebelumnya ia bersikeras kalau rambutku harus panjang karena terlihat cantik katanya. Cantik itu dari hati, aku selalu bersikeras begitu. Terkadang aku sedih melihat ibuku yang termenung sendiri. Ia memikirkanku, aku tahu itu. Seorang gadis 25 tahun yang harus membuang cita-citanya sementara atau bahkan selamanya, karena tak dapat melakukan aktivitas seperti orang kebanyakan. Sedikit saja aktivitas berat membuat lututku berdenyut-denyut dan membengkak kemudian. Begitu seterusnya. Jadi aku selalu berusaha melakukan aktivitas dengan tingkat lelah seminimal mungkin.

Sampai akhirnya aku berada pada titik yang hanya menghabiskan waktu tanpa membuat memori yang baru…

Kata dokter besok aku sudah boleh pulang, perawatan di rumah sakit tak kan banyak membantu karena tidak ada obat untuk penyakitku. Dokter bilang aku harus berdiet dan mengurangi beberapa kilogram bobot tubuhku. Terdengar sepele, hanya berdiet. Tapi bayangkan saja berdiet tapi kau tak boleh melakukan aktivitas berat. Olahraga pun tak disarankan karena akan memperparah keadaan lututku. Tapi paling tidak aku akan pulang kerumah. Pergi dari suasana rumah sakit yang selalu membuatku merasa kesepian.

Aku rindu rumah…

Aku rindu kepulan asap rokok ayahku dan aroma kopinya tiap pagi

Aku rindu omelan ibuku bila aku tak menghabiskan sarapanku

Aku, aku juga rindu kamu…



note : Teruntuk seorang teman yang selalu menginspirasi saya, tersenyumlah kawan, hidup ini akan selalu indah...

Minggu, 27 April 2014

Gores cerita kehidupan

Setiap orang punya cara sendiri menggoreskan cerita dengan pena takdir yang diberikan.
Entah bagaimana caraku menggoreskan dan meniti cerita demi cerita dalam kehidupanku.
Boleh dikatakan tiada keistimewaan yang aku punya. Kekayaan yang kunikmati bukan sepenuhnya milikku jua.
Mengapa Tuhan begitu mengasihiku dan memberi cerita yang begini mengharukan.
Dalam setiap cobaannya ia menyisipkan kebahagiaan-kebahagiaan tak ternominal.
Begitu cintanya Ia padaku sampai menegurku dengan hantaman-hantaman kecil yang selalu harus aku ambil hikmahnya.

Apakah begini yang semua manusia rasakan?
Berpijak untuk menggoreskan sebuah cerita hidup?
Ataukah seharusnya kita hidup untuk mengumpulkan nominal saja?
Atau hidup ini biar saja berjalan datar tanpa cerita di dalamnya?

Jikalau suatu kehidupan manusia hanyalah membayar hutang masa lalu, aku tak berjanji dapat melakukan hal yang lebih baik
Aku percaya semua proses kehidupan selayaknya sebuah buku.
Kau yang mengukir, kau yang pertama membaca.

_28.04.14_