Selasa, 08 November 2011

Bukan Model Beneran

        Cewek mana sih yang nggak narsis? Bukan cewek ya kalo nggak narsis, sealim-alimnya cewek pasti deh pernah senyum-senyun sendiri di depan kaca, atau ngerapihin rambut pas ada gebetan? Sesuatu banget.
       Jadi ceritanya sabtu lalu kami (aku dan kembaranku) balapan bbm-in si Komet buat foto session. Kebetulan juga dia lagi belajar-belajar fotografi dan dengan sangat senang hati, kami yang suka narsis ini mau banget kalo difoto alias jadi modelnya. Mulai jam 03.00 pm kami mulai siap-siap deh pilih-pilih baju yang rada serasi buat berdua, soalnya jm 04.00 pm biar udah go to location.
on the way location, nice shoot brother :)
         Sampai lokasi kita dipalakin duit 200ribu sama petugas, padahal ga ada tuh tulisan kalo mau foto-foto harus kena charge. Walau rada sebel juga sama si petugas akhirnya melayang juga 50 ribu akibat negoisasi, daripada bertengkar sama petugas. yapp.. lalu mulailah kita foto-foto.. Ups ga lupa moles bedak sama lipstick dikit biar ga berminyak, hehehe...
lupa bawa kaca, BB pun jadi
 Akhirnya foto session dimulai..... Action!!!!!!!!!!!!!

nice pose nih...

It's my super favorite shoot :)
nice smile, sist.


 Diakhiri dengan pengambilan gambar ini....ohh sesuatu banget nih...

nekat tiduran buat ambil this beautiful picture

       Finally, setelah ditelponin orang rumah kita balik pulang deh,,, Tinggal tunggu hasil editan mas fotografer yang udah dipesenin "jangan di tag ke FB". Maluuuuu.... Kita kan bukan model.Eh ternyata, di tag juga, gpp sih, semuanya bagus-bagus, cuma judul albumnya itu lohh 'WITH MODEL'. Kita kan model-modelan aja, Bukan Model Beneran.....


NB: Big Thanks to Yuditia Mendra, Sang Fotografer. 
    Juga buat my lovely twins sister who always make me feel 
    like single. hahahahaha....
       

Senin, 07 November 2011

Sebuah kemenangan

Hujan lagi... Kelabu. Aku pernah berbicara tentang hujan dan suasana sendu yang dihadirkannya. Aku juga pernah bertanya mengapa hujan dapat sedahsyat ini mempengaruhiku. Dan aku masih saja belum menemukan jawabannya.
Apa mungkin di kehidupan lalu aku memiliki kenangan pahit tentang hujan? Aku rindu... Hujan ini membuat aku rindu. Entah rindu pada apa, atau rindu pada siapa. 
Langit terlihat gelap berselimutkan awan hitam. Rintik kemudian berubah menjadi semakin deras. Kami terlalu asyik dengan pembicaraan dan perselisilan kecil saat itu. Saling berebut telepon genggam sampai truk hijau besar itu berada sangat dekat di depan kami. Ia dengan cepat memutar setir menghindari wajah truk yang nyaris saja mencium bibir mobil sedan kami.
Kami mungkin sangat beruntung saat itu bukan jurang di samping kami. Sangat beruntung masih tersisa ruang kecil untuk kami menghindar. Kami terdiam. Saling memandang. Apa itu tadi?
Kami hampir saja tabrakan gara-gara sebuah telepon, menyepelekan sebuah konsentrasi hanya untuk sebuah komunikasi yang bisa dilakukan nanti.
Aku masih shock. Dadaku naik turun, napasku terengah. Mobil mulai melaju lebih normal. Sebenarnya aku masih bingung, apa yang tadi kami lakukan? Nyaris saja.
Hari itu hari purnama, hari saat bulan terlihat penuh, full moon. Kami pergi ke kampung halaman untuk sekedar menghaturkan puja sembah kehadapan Tuhan kami. Mungkin karena itu kami masih dilindungi, mungkin karena itu masih ada kami. Dan mungkin masih ada waktu untuk kami untuk memperbaiki diri. Dan saat itu juga aku mengerti. Kita tidak butuh kemenangan. Tak butuh suatu pencapaian yang tinggi. Hanya butuh menerima. Menerima setiap moment yang harus kita alami. Dan itulah sebuah kemenangan. Saat kita mampu menerima setiap detail kehidupan yang kita alami. Aku ingin memenangkan ini. Ini saja cukup.

Aku dan seorang Ratih Iswari

Lucu juga rasanya punya sahabat seperjuangan, padahal nggak nyangka akan sama-sama berjuang dalam bidang yang sama. Cerita ini ditujukan untuk salah satu sahabatku yang bernama Ratih Iswari.
Ratih adalah seorang wanita karir yang lahir tanggal 2 September 1988 (belum menikah saat ini, tapi udah ada calonnya ya). kami berteman dari SMP, cuma beda kelas. Jadi cuma kenal-kenal muka sama nama, ya jarang-jarang deh ngobrol, yang aku tau waktu itu dia cantik, sama pacarnya Martino (hahahaah,,, cerita jadul bgt).

Pas SMA ehh ketemu lagi sama dia, jdi satu kelas lagi, ya jadi tambah kenal deh. Tapi ga sahabatan banget, cuma "temen sekelas" aja, ya lebih sering deh ngobrolnya. Nah, berawal dari lulus SMA dan sama-sama nggak lulus PMDK jurusan Ekonomi Akuntansi, ternyata kita les di tempat yang sama, les kilat khusus buat SPMB (sekarang namanya udah ganti kali ya..).
kalo nggak salah sempet ada pembicaraan gini.
      "Kenapa pilihan kedua harus Ilmu Ekonomi? Kenapa nggak Manajemen aja?"tanyaku
      "Iya, Lan. Soalnya akuntansi sama manajemen passenggradenya (mahap kalo salah tulis) hampir sama. Jadi peluang masuk kecil, kalo IE kan jauh lebih kecil, jd ya kemungkinan masuk" kata Ratih.
Ya gitu deh, akhirnya kita sama-sama gagal masuk akuntansi dan sama-sama kelempar di jurusan ILMU EKONOMI. hahahah,,, lucu ya, sama-sama gagal ni,,, cape deh.
Akhirnya kita mulai daftar-daftar bareng, kuliah bareng dan sama-sama ketemu temen baru, Ika, Gek Tya, Iis dan masih banyak deh.
narsis pas kuliah
Pendek cerita kita akhirnya bisa wisuda sama-sama (susah juga ngejar orang pinter, ngos-ngosan juga biar bisa tamat 2 tahun 10 bulan). Tapi horeeeee.... bisa.

yudisium...
 PKKMB


Semua temen deket rencana ngelanjutin S2. Aku juga sih, rencana di MEP. tapi...tapi... ehh aku harus nikah. Alamak, bisa gagal nih nyari gelar Magister :'( Tapi berkat dukungan ortu dan calon mertua (pas itu belum nikah) akhirnya aku daftar di MEP dan lagi-lagi ternyata si Ratih ini kuliah di MEP juga. Horee lagi deh, ada temen.
Perkuliahan yang cukup menantang karena bersamaan dengan kehamilan jadi lebih mudah, soalnya Ratih selalu jadi angel di kelas kami. Yang selalu nge-fax jawaban-jawaban tugas, terutama itung-itungan. Juga yang selalu buat aku semangat dalam pengerjaan thesis. Selalu deh tiap dia bilang "Lan, Jadwalku udah keluar", aku langsung pusing tujuh keliling karena keasyikan ga nyentuh si tesis. Alhasil tesisku selalu pake sistem SKS (Sistem Kebut Semalam), tapi untungnya bisa ngejar juga pake jurus lari marathon thooonnn.. Ya begitulah, si Ratih Iswari ini selalu jadi cerminan untuk maju. Sosok yang hmmm gimana ya, udah cntik, pinter, lemah lembut, feminim. Aduhhh pokoknya tiap pasang foto bbm sama dia selalu ada cowok-cowok yang nayain. Tentunya aku dengan tegas jawab "udah ada Herdernya". ahahahahah.


my wedding reception

MEP Angkatan XVII


pasang foto BBM ini selalu ditanyain sm temen2 cowok, hehe

Tulisan ini special buat kamu ya, Tih. Hope You like it. Thanks for always be my inspiration...







Selasa, 01 November 2011

I Hate unhappy ending story!!!

Ini cerita tentang seorang teman, yang sedang menyukai temanku yang lain. Si lelaki yang dulunya playboy sekarang justru begitu ingin dengan si gadis biasa yang apa adanya. Cantik ya, bukan sekedar biasa, ya tipikal cewek baik-baiklah. Tuh kan, finnally seorang lelaki pasti menjatuhkan pilihannya pada cewek biasa apa adanya untuk menjadi yang terakhir.
Lucu rasanya menjadi seorang mak comblang,,, hihihi, yang satu bilang ini yang satu bilang itu. Mereka terkadang bertengkar, lalu salah satunya menghubungiku, dengan diikuti bbm dari satunya lagi. hahahahah,,, tawaku selalu ingin meledak. Jelas-jelas mereka saling sayang, jelas-jelas saling mengkhawatirkan, namun mengapa masih ada pertanyaan akankah?
 Aku masih belum dapat memahami cinta, terkadang ia datang pada saat yang tak tepat. Aku membayangkan bila aku salah satu dari mereka, memiliki rasa yang sama namun masih belum yakin karena jarak yang akan memisahkan. Bagaimana kelanjutan suatu hubungan bila baru bertemu, merasakan cinta namun harus berbisah lagi. Sedih....    I HATE UNHAPPY ENDING STORY...
Inilah yang aku benci dari suatu cerita, perpisahan. Aku benci... Yang menjadi masalah, mereka bahkan belum tau sekuat apa akar-akar cinta yang telah mereka tanam.
Double date ceritanya......
Kalau begini aku merasa beruntung, beruntung sekali bisa hidup dengan orang yang aku cintai, mungkin bukan cinta pertama, namun memang dari semuanya hanya ia yang dapat membuatku menghapus tangis dengan senyuman, menyembunyikan segala luka yang ia buat. Aku terlihat begitu tegar di luar sana, berdiri tegak seperti orang yang paling bahagia. Namun aku sadar tak ada kesempurnaan yang dicapai oleh seorang anak manusia.
Yang jelas, I will be missing that moment so much.. Aku sendiri agak heran, mengapa harus ikutan sedih ya? hehehe,,, aku rasanya seperti menemukan teman baru, keluarga baru, yang di dalamnya ada aku dan orang yang aku sayang... semoga di tahun depan cerita ini masih ada. Semoga mereka tak saling melupakan. Semoga masih ada cerita tentang mereka, ya tentunya dengan tema "Happy ending love story".

Senin, 31 Oktober 2011

Terbang tanpa sayap


Ternyata tak semua kesalahan dapat ditebus dengan suatu prestasi. Aku pernah berpikir bahwa dengan melakukan hal yang terbaik dan dengan usaha yang paling maksimal akan dapat membayar semua kekukarangan yang pernah aku lakukan. Aku meyetir mobil sedanku perlahan, sambil melirik baocah kecil yang asik dengan mainannya di kursi penumpang, Syukurlah ia tenang malam ini. Aku masih mengingat kata-kata malam tadi, tidak begitu ingat sebetulnya, hanya maknanya memang aku rasakan benar. Semacam kalimat yang menyiratkan ketidakpuasan, ketidakcukupan dari hal yang kucapai. Ingin sekali rasanya aku berteriak mengatakan bahwa aku lelah. Entah lelah karena apa.
Aku mungkin lelah karena pekerjaan rumah, mungkin juga lelah karena tugas dan deadline yang harus kukerjakan dengan cepat. Entah apa... aku masih mencari. Apa mungkin aku lelah bersembunyi. Aku lelah bersembunyi di balik sebuah senyuman. Aku ingin sekali berkata bahwa aku hanyalah wanita berusia 23 tahun. Benar-benar butuh waktu untukku menjadi dewasa. Aku memang bukan wanita sempurna, namun mencoba untuk jadi sempurna adalah hal yang terlalu sulit untukku. Aku rasanya seperti mencoba untuk terbang tinggi namun sayap pun tak punya. Aku begitu kuat mengepakkan tanganku namun sayap itu takkan pernah muncul. mencoba terbang tanpa sayap hanyalah akan membuatku lelah, lengan yang lemah dan jari-jari yang tek berdaya.
Kata-kata itu sangat jelas menyiratkan bahwa aku memang bukan kebangganmu. Hal apapun yang kulakukan takkan dapat menghapus noda yang telah aku torehkan. Kalimat itu mungkin tak sengaja, tapi aku menyadarinya. Ah, memang takkan bisa jadi kebanggaan. Sekarang tak banyak yang dapat kuperbuat, aku hanya akan mengikuti alur yang akan membawaku. 
Aku mulai menangis sesegukan. Bocah kecil disampingku mulai terdiam, tadinya ia mulai berdiri tanpa sabuk pengaman.
      "Mama..." ia menerang pelan.
      Aku tersenyum pelan, sedihku sedikit berkurang. Memang aku harus mulai sadar bahwa tak banyak yang dapat kulakukan untuk mengubah keadaan. Tujuanku, hidupku, takdirku, semua sudah tergaris tanpa bisa terubah. Biar saja, ini aku. beginilah aku dan hidup yang membawaku.

Rabu, 26 Oktober 2011

Alergiku, jangan kumat SEKARANG!!!!

Pukul 13.15 dini hari.
Aku merasakan sedikit gatal pada beberapa bagian tubuhku, seputaran mata kaki, lengan dan pinggang. Awalnya aku pikir aku digigit nyamuk karena lupa pakai selimut. Lama-lama aku menyadari tak terlalu banyak bintik nyamuk, gatalnya justru pada bagian-bagian yang terkena karet pakaian.
Alergiku!!!!!!!!!!!!!!!!
Aku lupa pakai selimut, memang. Aku alergi dingin pada saat-saat tertentu, pada saat kurang fit misalnya. Eit,, aku tak mau ya esok hari jadi kacau hanya karena tubuh gatal-gatal dan dipenuhi bintik besar yang mengerikan..hahaha,, sedikit lebay deh jadinya.
Untungnya aku sudah terbiasa menghadapi ini. Ayahku bilang itu karena perut kosong, juga suhu yang agak dingin plus kondisi yang kurang fit (kalo menurutku sih pas apes aja). Aku langsung meminum segelas air hangat, tak lupa cemilan stik coklat yang ada di kulkas (satu-satunya pilihan makanan malam ini).
Tak lupa mengenakan sweter ungu yang lengannya sudah robek (yaampun, penting banget ya?). 
Mulai membuka-buka situs-situs kesukaanku (facebook, blogger dan google) sambil merevisi powerpoint untuk ujian besok. The final thesis, fiuhhhh.... FINALLY.
Aku merasakan badanku lebih hangat, sedikit gerah bahkan, dengan frekuensi gatal yang mulai berkurang. Oh Allergy, dont come now please. I have a big day tomorrow and I wanna everything look prefect. I'll do the best I can do, so please help me.

Selasa, 25 Oktober 2011

Tanpa aku

Pagi ini agak mendung. Suasana yang sedikit berbeda dari biasanya. Aku melirik arlojiku, pukul 10.05. Bukan waktu yang tepat untuk makan makan siang, tapi aku bahkan sarapan saja belum.  Aku merapikan mejaku sedikit, dan berlalu menuju cafetaria. Aku memesan secangkir kopi untuk dibawa ke ruanganku. Sebenarnya aku kurang suka berada di sini, mengingatkan akan seseorang yang benar-benar tak aku ingin. Jam-jam begini ia biasanya kemari hanya untuk memesan kopi ataupun hanya cemilan, tak terlalu sibuk biasanya. Namun sudah beberapa hari ini ia tak muncul, entah kemana ia. Memang sedikit misterius, atau mungkin hanya perasaanku saja. Aku memang jarang keluar juga belakangan ini,mencoba menghindar juga tepatnya, walau aku benar-benar belum dapat mengenyahkan pikiranku tentangnya. Belum bukan berarti tidak bisa kan. Kami tidak cocok, mungkin memang itu alasannya. Ah, sudahlah aku benar-benar ingin melupakannya.
"Seperti biasa, satu" kataku pada pelayan."Antar ke ruangan saja" tambahku. Aku berlalu kembali menuju ruanganku. Mencoba mengingat-ingat apa yang ada di benakku sebelum aku memikirkannya. Aku benar-benar berusaha mengalihkan pikiran itu. Apakah aku harus memikirkan tentang cuaca pagi ini? atau deadline pekerjaan untuk sore ini? belakangan ini memang suasana hatiku agak mendung, ya semendung pagi ini. Terkadang aku tak sadar kalau aku sedang melamun, pikiranku kosong sekosong perasaanku. Aku menepis rintik hujan yang mulai turun membasahi lengan kemejaku sambil mempercepat langkahku. Kulihat sebuah mobil yang kukenal melesat pelan menuju pintu keluar.
'Di sini ternyata' benakku. ah, sudahlah. Memang harus dilupakan kan? Melihatnya justru akan merobohkan dinding pertahanan yang telah kubangun. Aku masih ingat bagaimana caranya tersenyum padaku saat ia butuh bantuan untuk memperbaiki laptopnya. Juga caranya tertawa bersama kawannya ketika aku menceritakan hal yang dianggapnya lucu. Tak lupa dengan pertanyaan-pertanyaan antusiasnya. Dan hal yang paling menarik adalah ketika ia merapikan rambut ke belakan telinganya.  Ingatan yang masih sangat jelas. Aku mengingatnya seperti terjadi baru kemarin.  Tapi ini rasanya begitu salah. Memang harus kuakhiri mimpi ini. Kata-kata sore itu begitu menghantamku. "Sudahi saja" begitu katanya. Aku bahkan tak dapat berucap apapun, hal yang sulit namun memang harus terjadi. 
Aku menyaksikan mobil sedan silver itu menghilang dibalik pintu keluar. Mengakhiri pertanyaan-pertanyaanku pagi itu yang telah terjawab dengan keberadaannya. Hari ini mungkin akan lebih baik dari hari lalu,   lebih tenang mengetahui ia dapat menjalani hidupnya tanpa diriku.